Maafkan Aku Sayangku

Saya, Istri dan Akhtar IbrahimIni adalah sebuah rasa penyesalan dari seorang suami dan sekaligus ayah…Saya, Istri dan Akhtar Ibrahim. Saya menikahi istri saya (Yosi Setiorini) pada tahun 2002, satu bulan setelah saya lulus dari Fahutan UGM. Istri saya saat itu masih kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta menepuh studi Farmasi. Ada komitmen bahwa istriku akan tetap melanjutkan kuliah di UAD tersebut sampai selesai sedangkan saya akan kembali bertugas di Kalimantan Selatan.

Waktu berselang, akhirnya istri saya memutuskan untuk berhenti kuliah. Saya tidak bisa memaksanya untuk terus. Sekarang yang menjadi beban adalah ‘bertanggung jawab’ kepada mertua. Sepertinya karena saya kuliah dia jadi terhenti. Saya termasuk suami yang senang kalau istri lebih fokus mengurus keluarga, tetapi jika dia mau terus kuliah dan berkarir sesungguhnya tidak masalah bagi saya. Setelah dia memutuskan untuk berhenti, kami berkumpul di Banjarbaru. Alhamdulillah pertengahan tahun 2003 istriku mulai hamil. Berhubung di Banjarbaru tidak ada keluarga, kami memutuskan rencana kelahiran anak kami yang pertama di Manggar, Belitung tempat mertua saya tinggal. Pada saat Akhtar Ibrahim lahir tahun 2004, saya tidak bisa menungguinya karena saya ada pekerjaan di Banjarbaru. Sebuah rasa penyesalan saya yang pertama.

Tahun 2006 saya menerima beasiswa dari Australian Development Scholarship (ADS). Senang sekali tentunya karena ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menimba pengalaman dan memperkaya wawasan. Kuliah di Australia mungkin akht_alisha.jpgtidak lebih beaik dari Indonesia jika dilihat dari peningkatkan kemampuan akademis, tapi tentu akan lebih memperkaya pengalaman dan wawasan. Istri dan anaku tentu saja akan dibawa. Namun ternyata Allah berkehendak lain. Istriku hamil lagi. Ini membuatnya tidak bisa masuk ke Australia menemani saya. Pihak ADS tidak mengizinkan istri yang sedang hamil menyertai suaminya ke Australia. Alhasil istri saya harus melahirkan dulu di Indonesia baru boleh masuk ke Australia. Inilah rasa penyesalan saya yang kedua.

Saat saya kuliah di Australia, istriku melahirkan Alisha Ibrahim di Belitung. Alhamdulillah, anak kami sudah lengkap laki-laki dan perempuan. Untuk yang kedua kalinya saya juga tidak bisa mendampingi istriku saat melahirkan. Inilah rasa penyesalan saya yang ketiga.

Mungkin apa yang telah saya lakukan, baik itu disengaja ataupun tidak bukanlah suatu contoh yang baik sebagai seorang suami. Mungkin saya bisa berkilah bahwa semua karena keadaan yang menuntut demikian. Apapun alasannya tetap saja saya telah ‘menelantarkan’ anak istri. Bagi rekan-rekan para suami dan ayah, jangan ditiru ya. Istri dan anak adalah harta yang sangat berharga. Berharganya mereka baru akan terasa setelah kita jauh dari mereka seperti saya sekarng.

Istriku dan anak-anak tercinta, maafkanlah …

Incoming search terms for the article:

Share this post
  • Facebook
  • MySpace
  • Technorati
  • Google Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Ping.fm
  • Live
  • email
  • Digg
  • Yahoo! Bookmarks

Related posts:

  1. Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Tahun 1998-2002 Saya adalah alumni Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA) Kadipaten tahun...
  2. Perjalanan ke Brisbane, Queensland Jarak Armidale, ke Brisbane adalah 450an Km. Namun karena saya...
  3. Independent Day Untuk mencari tambahan uang ekstra di Australia, saya dan Pak...
  4. Indonesian Night; University of New England Armidale adalah sebuah kota kecil di New South Wales. Jumlah...
  5. Festival Musim Gugur Armidale Hari Sabtu tanggal 31 Maret 2007 diadakan Festival di kota...

Tags :

Schlagworte: armidale, UGM, UNE, yogyakarta,