Belajar GIS

Ini adalah sebuah cerita pribadi yang mungkin bisa sensitif jika dibaca. Jika anda pikir tidak menarik cerita pribadi orang lain, silakan abaikan posting ini.

Cerita ini bermula dari suatu saat ketika saya tertuntuk untuk belajar GIS. Di banku SLTP/SLTA saya memiliki ketertarikan kepada salah satu madzhab keilmuan formal, yaitu eksakta. Mungkin kalau bahasa sononya adalah science. Salah satu alasannya mungkin karena science lebih pasti, tidak ambigu, salah dan benarnya jelas. Berbeda dengan ilmu sosial yang – menurut saya – semuanya bisa benar dan semuanya bisa salah.

Di bangku kuliah, Fakultas Kehutanan UGM 1998, saya pun mendalami yang kampus sebut sebagai forest biometrika yang isinya ukur mengukura, sampling, statistik dan modeling. Saya tidak tertarik dengan dunia remote sensing / GIS karena saat itu menurut saya tidak akan terpakai dalam perencanaan kehutanan.

Kembali ke dunia kerja di Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2002, tuntutan untuk melakukan pemetaan berbasis komputer sudah sangat tinggi. Sedangkan tenaga yang ada yang menguasai pemetaan dengan komputer masih tidak ada. Karena saya bekerja di bidang yang berkaitan dengan kawasan akhirnya saya berinisiatif mempelajari satu perangkat lunak pemetaan, yaitu MapInfo. Pada tahapan selanjutnya karena rekan tugas di instansi lain seringnya menggunakan perangkat lunak ArcView, akhirnya saya pun beralih mempelajari ArcView. Dengan sedikit bakat ilmu-ilmu sain yang saya miliki, saya pikir tidak terlalu sulit mempelajari ArcView dengan autodidak.

Beberapa tahapan/stage dalam mempelajari GIS yang saya alami adalah sebagai berikut:

1. Kagum dengan teknologi/metode baru (GIS)

Rasa kagum saya pikir sesuatu hal yang lumrah di saat kita mencoba suatu teknologi yang dapat mendukung pekerjaan kita lebih cepat dan konsisten. Ya, GIS membantu pekerjaan saya secara lebih cepat dan konsisten. Bahkan saat itu, saya juga berpikiran bahwa GIS juga dapat melakukan error-free mapping. Suatu pandangan yang biasa bagi pemula di GIS. Dengan munculnya rasa kagum dan merasakan manfaatnya, akhirnya proses pembelajaran GIS berlanjut terus.

2. Sering coba-coba dan sulit merasa puas

Tidak selamanya apa yang kita perlukan dapat dijawab (secara langsung) oleh komputer, termasuk juga GIS. Banyak hal yang muncul di kemudian berupa ketidak puasan. ‘Ini seharusnya begini‘ atau ‘itu seharusnya begitu‘ selalu muncul. Hal tersebut justru saya pikir mempercepat proses pembelajaran saya. Prinsip saya saat itu adalah bahwa selalu ada jawaban dari semua ‘kegelisahan’ saya, hanya saja saya belum tahu atau orang lain yang saya tanya juga belum tahu. Sering merasa tidak puas yang dibarengi dengan mencari jawaban atas ketidakpuasan tersebut akan mempercepat proses pembelajaran. Jangan merasa heran jika ada anak baru belajar tentang sesuatu hal, misalnya GIS, yang beberapa bulan kemudian lebih pandai dibandingkan kita.

3. GIS Geek

Di mana pun dan kapan pun saat itu, saya merasa saya adalah GIS Geek. Salah satu cirinya adalah sering membawa-bawa HD eskternal ke mana-mana. Sehari saja tidak ada flashdisk di kantong terasa hampa. Bahkan sempat yang namanya flashdisk (isinya data dan software GIS) menjadi kalung saya he..he.. lucu banget mengingatnya.

4. GIS for All Purposes

Ego adalah bagian dari diri kita, tidak terkecuali dalam dunia pembelajaran GIS. Saya merasakan hal ini. Pernah terpola di pikiran saya bahwa jika suatu hal di kantor saya dilakukan tanpa GIS adalah tidak valid. Semua ‘harus’ dilakukan dengan menggunakan GIS, maksudnya hal-hal yang berkaitan dengan ruang tentunya. Jika saya melihat paparan dari ‘ahli’ mengenai ini atau itu yang tidak menyinggung sama sekali tentang GIS saya akan mencibir dalam hati ‘Ah cuma itu itu aja, pakai GIS dong Pak‘. Kejam banget kayaknya pola pikir saya saat itu karena sering tidak menganggap disiplin non-GIS.

5. Mempertanyakan apa sih GIS dan analisisnya?

Saya masih ingat pernah diskusi dengan Agus (BPDAS Barito) yang merupakan adik kelas saya di SKMA dan sedikit banyak menekuni dunia GIS. Saat itu saya lontarkan pertanyaan “Apa sih analisis dalam GIS itu?”. Pertanyaan itu muncul karena apa yang saya lakukan selama itu adalah intersect dan intersect. Jadi, apakah analisis dalam GIS itu cuma intersect?

Saat itu mulai muncul dalam diri saya ketidak banggaan sebagai praktisi GIS. ‘Kok GIS yang saya kenal cuma itu itu saja ya?‘.

6. Belajar dari sistem lain.

Perasaan tidak bangga menjadi praktisi GIS membawa saya mempelajari sistem lain dalam hal kaitannya dengan GIS; hidrology, pertanian, image analyst, statistik, data mining, dsb. Kesimpulan akhirnya adalah bahwa GIS hanya sebagian kecil atau sub sistem dari sistem yang kompleks. Kita hanya akan menjadi pembuat peta digital jika hanya mempelajari GIS saja. Jika ingin menggunakan GIS bagi sebesar besar kegunannya, maka wajib dipelajari sistem lain yang berkaitan dengan GIS.

Banyak hal yang dulu pernah saya pikir bahwa itu benar, sekarang saya pikir keliru misalnya

# Saya berpandangan bahwa data GIS adalah error-free dan tidak memiliki skala. Sekarang saya berpandangan bahwa data GIS memiliki error dan harus dilihat dalam tingkatan akurasi (skala)

# GIS lebih berat ke science daripada seni. Sekarang saya pikir GIS lebih berat ke seni daripada science.

# Belajar GIS adalah mempelajari satu software dan pada titik akhirnya dapat memprint peta. Sekarang saya pikir hal tersebut bukan GIS, melainkan hanya desktop mapping.

# Penekanan pengembangan GIS adalah peningkatan sumberdaya alat: komputer, plotter, scanner, dsb. Sekarang saya pikir kita harus fokus kepada pengembangan sistem yang dipelopori oleh pengembangan sumberdaya manusia. Dulu saya sedih banget kalau plotter rusak, sekarang sudah berbulan-bulan plotter rusak dan yang baru juga masih diservice, pekerjaan GIS saya tidak terganggu karena fokusnya adalah GIS menganalisa dan derivasi data, bukan mencetak peta.

# Untuk mengembangkan GIS ‘harus’ satu sofware yang sama. Dulu sering ‘mengejek’ orang kalau ybs memakai autocad atau perangkat lunak lain. Sekarang saya pikir tidak masalah menggunakan software berbeda asalkan ada kesamaan sistem/format.

# Data yang valid adalah shapefile. Tidak heran saya tidak menaruh respect terhadap peta-peta yang bergelimpangan di ruangan. Sekarang saya pikir data yang valid adalah peta kertas yang ada tanda tangan. Sehingga saya sudah meminta teman-teman di ruangan untuk lebih memperhatikan peta yang ada legalitasnya. Semua peta, meskipun kita sendiri yang membuatnya, jika sudah ditandatangani saya minta discan ulang.

# Untuk dapat eksis di dunia GIS, saya harus mempelajar GIS sebenar-benarnya. Sekarang saya berpikir bahwa untuk eksis, saya harus mempelajari disiplin lain di luar GIS seperti kesehatan, crime, perencanaan kota, hidrology, statistik, dsb.

Belajar GIS sangatlah menarik. Tahapan pembelajaran yang dilalui oleh saya mungkin akan berbeda dibandingkan dengan pengalaman rekan-rekan yang lain.

Share this post
  • Facebook
  • MySpace
  • Technorati
  • Google Bookmarks
  • Yahoo! Buzz
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Ping.fm
  • Live
  • email
  • Digg
  • Yahoo! Bookmarks

Tags : , , , , ,