Pengelolaan Pertanian Berbasis Data Spasial
Saya baru saja melakukan pelatihan GPS di Dinas Pertanian Prov Kalsel dengan peserta dari Kab/Kota. Dari interaksi dengan mereka, saya mendapat gambaran bahwa penanganan data spasial di bidang Pertanian (di Kalsel) sangat minim sekali. Perkembangan teknologi spasial GPS, GIS, dan Remote Sensing masih belum melakukan penetrasi yang berarti di instansi-instansi pertanian.
Padahal, kalau hitung-hitungan kasar, saya pikir pertanian lebih menyumbang income-terhitung bagi negara dibandingkan kehutanan. Di buku-buku statistik memang tidak pernah kelihatan dengan jelas, selalu kalah oleh migas dan sektor lain. Tapi ‘kan hal ini dikarenakan tidak dihitungnya konsumsi masyarakat/petani langsung terhadap produk mereka. Seandainya komponen tersebut dihitung tentu saja akan luar biasa besarnya. Selain itu, dari fisik obyek yang dikelola, kehutanan bisa dibilang mengelola obyek yang tidak memerlukan pengukuran sampai sub meter. Sedangkan di pertanian, luasan bidang lahan sudah menyentuh persil lahan dengan ukuran kecil-kecil yang kalau salah mengukur/menghitung dalam hitungan meter akan fatal akibatnya. Jadi pengelolaan spasial lebih diperlukan di Pertanian dibandingkan di Kehutanan.
Saya memiliki pemikiran bahwa pengelolaan pertanian di Banua (Kalimantan Selatan) harus lebih berbasis data spasial mengingat pentingnya sektor ini bagi pembangunan. Hal pertama yang perlu diwujudkan adalah bagaimana informasi-informasi spasial dapat sampai ke petani. Misal, petani bisa mengetahui jenis tanah, cuaca/iklim beserta prakiraannya, sistem lahan, erosivitas, dsb dari daerahnya masing-masing. Jadi, penyuluh pertanian tidak saja memberikan teori-teori tentang bagaimana menanam dan memelihara tanaman, tetapi juga sudah memberikan informasi “apa dan bagaimana menanam yang terbaik di lokus tertentu” dengan basis spasial tersebut.
Sebagai imbal balik, petani juga disertakan dalam pemetaan partisipatif. Pemetaan di sini tidak saja dalam artian membuat polygon, tetapi bagaimana informasi lapangan dapat dikumpulkan dalam satu wasah data spasial pertanian yang pada akhirnya bisa dianalisa dan informasinya bisa dikembalikan ke petani itu sendiri. Sebagai contoh, pengukuran curah hujan di daerah yang tidak ada stasiun pengamatan cuaca bisa dikerja-sama kan dengan petani/kelompok. Lokasi-lokasi penampakan erosi di lahan petani bisa dilaporkan kepada penyuluh yang selanjutnya digabungkan dalam suatu database spasial.
Data yang ada di instansi/lembaga seharusnya dikembalikan ke lapangan, baik langsung ke petani maupun lewat penyuluh. Peta tanah, iklim, pH, erosivitas, land suitability, dsb harusnya menjadi barang publik, bukan hanya menjadi komoditas konsultan/penelitian untuk menyelesaikan proyek.
Peningkatan sumberdaya manusia pertanian agar lebih spasial-alert kiranya patut ditingkatkan. Peningkatan SDM ini tidak saja ditujukan mencetak operator-operator yang mahir GIS/GPS/RS, tetapi juga para pengambil keputusan yang faham bahwa mengelola obyek pertanian harus berbasis spasial.
Pengelolaan pertanian berbasis data spasial ini saya angan-angankan dapat menjawab permasalahan-permasalahan pertanian seperti kegagalan panen, hama/penyakit, konversi lahan pertanian, dsb.
Tags : banua, cuaca, data spasial, dinas, gis, GPS, kalsel, pertanian, tanah
4 Responses to “Pengelolaan Pertanian Berbasis Data Spasial”
said on Desember 5th, 2009 at 9:56 am
Saya tertarik dengan ide Pemetaan Partisipatif. Dari namanya saja sudah terbayang ini adalah metode pemetaan keroyokan (melibatkan banyak pihak) bersumber dari data yang nota bene-nya adalah hasil “urunan” para partisipant. Jika diimplementasikan, saya yakin, dapat menekan biaya survey pada tataran yang cukup signifikan. Dengan kata lain, uang rakyat dapat di-irit (dalam hal biaya survey bersumber dari APBN/APBD).
Sekedar info, hasil searching Yahoo dengan keyword “Pemetaan Partisipatif” menempatkan jkpp.org di urutan pertama. Disitu disediakan tutor gratis Pemetaan Partisipatif (Bab 1 s/d Bab 10, pdf format).
said on Desember 6th, 2009 at 8:43 pm
Kang Usman. Terima kasih link yang diberikan sungguh bermanfaat. Saya langsung meluncur ke tempat download.
Sekilas JKPP sepertinya dikembangkan oleh rekan-rekan di LSM karena melihat di situ ada afiliasi dengan beberapa yang saya tahu. Sangat bagus inisiasinya. Saya belum tahu kalau ada pihak-pihak yang konsen dengan pemetaan partisipatif ini.
Mungkin berangat dari kacamata yang lain – kacamata orang pemerintah – saya memiliki pemikiran bahwa seluruh rekan-rekan GISer di berbagai instansi yang ada di Provinsi saya ini terhubung satu sama lain. Tidak cuma untuk saling berbagi pengetahuan, tetapi juga berbagai data khususnya data primer. Selama ini kita tergantung kepada data sekunder yang di DROP dari Bakosurtanal, padahal hampir tiap minggu kita ke lapangan mendapat data primer yang sangat besar sekali nilainya yang biasanya berakhir di laporan. Inisiasi saya perihal pemetaan partisipatif di government ini saya mulai dengan mengumpulkan kontak-kontak orang yang memiliki interest dengan GIS, belum sampai tahapan praktisnya.
Mengenai pemetaan partisipatif di segmen petani, saya memang cuma punya ide tapi tidak tahu caranya. Kendala terbesar adalah membuat bapak/ibu petani tahu bagaimana melakukannya (sesuai porsinya). Mudah-mudahan dari modul yang akang beri linknya ada jawabannya, masih belum di baca soalnya.
said on Desember 7th, 2009 at 10:18 pm
kalo di tempat saya kang mungkin yg namanya pemetaan partisipatif sudah mulai dilakukan khususnya pada kegiatan2 yang dilakukan di lahan2 milik (GERHAN/GRLK). Dari kantor kita cuma menugaskan satu orang juru ukur saja, pembantu2nya diambil dari masyarakat dan/atau pamong desa dimana lokasi pengukuran dilakukan-ini salah satu partisipasi masyarakat dlm pemetaan-. Dalam proses tsb sedikit banyak ada transfer pengetahuan perpetaan dari si juru ukur ke para pembantunya.
Saya sependapat dengan komen Kang Usman (nepangkeun..) dengan cara tersebut selain dapat menekan biaya juga dapat mengatasi keterbatasan sumberdaya yang ada di dinas2 teknis tsb.
said on Desember 13th, 2009 at 9:08 pm
Hatur nuhun Kang Hadi parantos sharing pangalaman berharga. Wacana pemetaan partisipatif memang selain ada motif teknis (untuk alih teknologi dan bantuan tenaga), juga ada motif sosialnya agar yang dilibatkan merasa memiliki pekerjaan pemetaan tersebut yang pada akhirnya akan menjaga atau paling tidak mensosialisasikan hasilnya. Sekarang ini sebagai contoh tata batas kawasan hutan, masyarakat sekitar hanya dilibatkan sebagai, maaf, buruh. Praktis tidak ada transfer teknologi/pengetahun/keterampilan di situ. Kalau saja dari Kantor bisa menugaskan orang-orang desa sebagai pendamping kan lebih bagus.
Leave a Reply